“Rupiah berada di zona tertekan, menembus level Rp17.722 per dolar AS, menandakan tekanan eksternal yang signifikan,” kata Dr. Budi Santoso, ekonom senior di Bank Indonesia.
Pada 31 Agustus, nilai tukar resmi rupiah melemah hingga Rp17.722 per dolar AS, mencatat penurunan paling tajam dalam pekan ini. Data tersebut dirilis oleh Bank Indonesia dalam laporan harian pasar valuta asing.
Penurunan ini dipicu oleh pidato hawkish Federal Reserve yang menegaskan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut, serta ketidakpastian geopolitik yang memperkuat dolar di pasar global. Sentimen risk‑off mengalir ke aset safe‑haven, menekan mata uang emerging market termasuk rupiah.
Akibatnya, biaya impor, khususnya bahan baku energi dan pangan, diproyeksikan naik, menambah beban inflasi konsumen. Bursa saham lokal juga mencatat penurunan, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap likuiditas dan profitabilitas perusahaan yang bergantung pada impor.
Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan kebijakan intervensi di pasar spot dan memperketat likuiditas guna menstabilkan nilai tukar, sambil memantau perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih menjadi faktor utama.