“Kami menargetkan travelator yang menghubungkan Stasiun Karet dan BNI City selesai pada akhir 2026,” ujar juru bicara PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam konferensi pers pekan lalu. Proyek ini bertujuan menyatukan dua titik transportasi penting—stasiun KRL Karet dan stasiun BNI City—dengan satu jalur eskalator datar yang memudahkan perpindahan penumpang. Menurut pihak KAI, integrasi ini akan mengurangi waktu tempuh antar moda, sekaligus meningkatkan kenyamanan bagi ribuan komuter harian.
Pembangunan travelator tersebut kini berada pada fase perencanaan akhir, dengan desain yang menyesuaikan kondisi ruang terbatas di antara kedua stasiun. Tim teknik KAI bekerja sama dengan konsultan infrastruktur untuk memastikan struktur yang kuat, tahan lama, dan ramah lingkungan. Selain itu, mereka memperhitungkan aspek keamanan, seperti sistem pemantauan video dan sensor darurat, agar pengguna dapat bergerak dengan tenang.
Anggaran proyek diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah, sebagian besar dibiayai oleh pemerintah melalui program revitalisasi transportasi perkotaan. Jadwal konstruksi direncanakan dimulai pada kuartal pertama 2024, dengan target penyelesaian pada akhir 2026. Selama masa pembangunan, KAI berjanji akan meminimalkan gangguan operasional di kedua stasiun, termasuk penyesuaian jadwal kereta dan penambahan jalur alternatif bagi penumpang.
Jika tepat waktu, travelator ini akan menjadi contoh sukses integrasi moda transportasi di Jakarta, membuka peluang serupa di titik-titik lain kota. Penumpang diharapkan dapat melintasi jarak antara Karet dan BNI City hanya dalam hitungan menit, mengurangi kepadatan di jalur kereta dan meningkatkan efisiensi jaringan KRL serta LRT. Dengan selesainya proyek ini, KAI berharap dapat memperkuat posisinya sebagai penyedia layanan transportasi yang modern dan berkelanjutan.