“Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya inklusi suku Dayak dalam barisan TNI,” ujar Kepala Staf Umum TNI dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (31/8). Pernyataan itu menandai komitmen militer untuk menindaklanjuti arahan presiden terkait perekrutan anggota suku Dayak yang berasal dari daerah pedalaman.
Mabes TNI menyampaikan rencana konkret berupa pembentukan jalur seleksi khusus yang akan mempermudah proses pendaftaran dan pelatihan bagi calon prajurit Dayak. Program ini akan melibatkan kerjasama dengan pemerintah daerah, lembaga adat, serta lembaga pendidikan militer guna memastikan standar kompetensi tetap terjaga tanpa mengorbankan keberagaman budaya.
Selain aspek administratif, TNI juga berjanji akan menyediakan fasilitas pendukung, seperti beasiswa pendidikan, pelatihan bahasa Indonesia yang intensif, dan adaptasi materi pelatihan yang sensitif terhadap latar belakang budaya Dayak. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi hambatan geografis dan sosial yang selama ini menjadi penghalang bagi pemuda Dayak yang ingin berkarier di militer.
Para pengamat menilai langkah ini tidak hanya memperluas basis rekrutmen, tetapi juga memperkuat citra TNI sebagai institusi yang menghargai pluralisme Indonesia. “Jika berhasil, kebijakan ini bisa menjadi model bagi suku‑suku lain yang selama ini kurang terwakili di angkatan bersenjata,” ujar Dr. Budi Santoso, pakar keamanan nasional.
Implementasi program diproyeksikan akan dimulai pada kuartal pertama tahun depan, dengan target awal merekrut seratus calon prajurit Dayak. Mabes TNI menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa keberhasilan inisiatif ini akan menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam mewujudkan TNI yang inklusif, profesional, dan siap menghadapi tantangan masa depan.