Rupiah melemah ke Rp17.750 per dolar AS pada pagi Senin (31/8), mencatat penurunan 57 poin atau 0,32 % dibandingkan sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan pasar global yang dipicu oleh data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan, membuat investor beralih ke aset safe‑haven.

Kenaikan nilai tukar tersebut dipengaruhi oleh sentimen negatif terhadap mata uang emerging market secara umum, terutama setelah Federal Reserve menegaskan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Trader lokal menanggapi dengan menambah posisi jual rupiah, memperkuat alur keluar modal asing.

Meskipun demikian, Bank Indonesia (BI) tetap optimis bahwa volatilitas ini bersifat sementara. Dalam pernyataan resmi, BI menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar bila diperlukan, sekaligus mengingatkan pelaku pasar untuk tidak terjebak dalam spekulasi berlebihan.

Para analis memperkirakan bahwa pergerakan rupiah ke level Rp17.750–Rp17.800 masih dalam batas wajar, mengingat faktor eksternal yang mendominasi. Mereka menyoroti pentingnya kebijakan fiskal dan reformasi struktural dalam memperkuat daya tahan ekonomi domestik, sehingga dapat menahan dampak guncangan eksternal.

Ke depan, mata uang nasional diprediksi akan terus dipengaruhi oleh kebijakan moneter AS dan kondisi geopolitik global. Namun, dengan cadangan devisa yang masih kuat dan kebijakan moneter yang fleksibel, Indonesia memiliki ruang manuver yang cukup untuk menstabilkan nilai tukar dan melindungi daya beli konsumen.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://www.lbhpekanbaru.or.id/ slot gacor